Selamat Datang
Minggu, 15 Desember 2013
Sabtu, 07 Desember 2013
Diposkan oleh LOUISSE
LUCASSIC,
Anda suka lagu jaman dahulu ciptaan Gesang?
tentunya tidak jauh dengan lagu keroncong. Disini Saya akan memberikan link
daftar list lagu keroncong, dimana lagu ini sekarang sudah sulit untuk
didapatkan, kalaupun ada itu adalah lagu keroncong yang dirilis kembali dan
baru agar tetap lestari . berikut beberapa list donwload lagu keroncong asli
masih berbau klasik: seperti Keroncong sepasang mata bola, keroncong Juwita
malam dan masih banyak lagi, dan tentunya gratis buat anda. Bisa untuk hadiah
kepada orang tua, atau orang-rang tua lainnya. Sambil melestarikan budaya
Indonesia yang hampir Punah. Bebas bagikan atau copy paste. Mau?
coba link di sini :
Rabu, 27 November 2013
MENULIS PENELITIAN
PENELITIAN KUALITATIF
Menulis Proposal Penelitian
dapat posting di sini : http://www.menulisproposalpenelitian.com/search/label/penelitian%20kualitatif
"Jika saat ini anda juga mengalami hal yang sama seperti kebanyakan mahasiswa lainnya, yaitu kesulitan dalam menulisproposal penelitian dan laporan penelitian, maka layaklah untuk memiliki E-Book ini".
E-Book setebal hampir 100 halaman ini berisi panduan praktis untuk umum dan mahasiswa dalam penulisan ilmiah seperti Kertas Kerja, Karya Tulis, Skripsi, Thesis atau Disertasi.
Saya coba menerjemahkan konsep-konsep yang ilmiah dan rumit itu menjadi sebuah istilah dan cara yang praktis serta mudah diterapkan dalam menulis Proposal Penelitian dan Laporan Penelitian. Sehingga tanpa harus ribet, proposal dan atau laporan anda selesai tepat waktu, bahkan lebih awal!
Keluhan mereka yang mahasiswa reguler lebih beragam dibanding mahasiswa yang sudah bekerja. Dari bagaimana menyiapkan topik dan ide penelitian, tinjauan pustaka dan pencarian bahan dan buku sumber, jurnal ilmiah, metodologi penelitian dan analisis data statistik, konsultasi dengan pembimbing, mendesaknya batas waktu seminar dan pengumpulan laporan penelitian, tindak lanjut hasil koreksi dosen pembimbing maupun penguji serta kesiapan materi seminar. Belum lagi persoalan pemahaman tata tulis dan kemampuan menulisnya. Sedangkan mahasiswa karyawan yang non-reguler, hampir semua seragam. Mereka mengeluhkan semua hal yang dikeluhkan mahasiswa reguler itu!
Pesan sekarang juga. Manfaatkan kesempatan PROMO selama bulan September saya berikan secara GRATIS.
Nantinya E-Book ini akan dijual Rp 20.000,- (Dua puluh ribu rupiah), dengan cara transfer ke Rekening BNI No. 025-234-7332 a.n. Bpk. Cokro Aminoto, SIP, M.Kes. Atau transfer pulsa Rp 25.000,- ke 081-327-257-944 (hanya ke nomor ini)
Nantinya E-Book ini akan dijual Rp 20.000,- (Dua puluh ribu rupiah), dengan cara transfer ke Rekening BNI No. 025-234-7332 a.n. Bpk. Cokro Aminoto, SIP, M.Kes. Atau transfer pulsa Rp 25.000,- ke 081-327-257-944 (hanya ke nomor ini)
Caranya? Dengan menuliskan komentar di bawah posting klik di sini
atau hubungi:
E-Mail: cokroaminoto2007@gmail.com atau
HP. 081-327-257-944
Jumat, 22 November 2013
Kamis, 21 November 2013
Penelitian Kualitatif
(Metode Pengumpulan Data)
A. Pendahuluan
Dalam penelitian
sosial, masalah penelitian, tema, topik, dan judul penelitian berbeda secara
kualitatif maupun kuantitatif. Baik substansial maupun materil kedua penelitian
itu berbeda berdasarkan filosofis dan metodologis. Masalah kuantitatif lebih
umum memiliki wilayah yang luas, tingkat variasi yang kompleks namun berlokasi
dipermukaan. Akan tetapi masalah-masalah kualitatif berwilayah pada ruang yang
sempit dengan tingkat variasi yang rendah namun memiliki kedalaman bahasan yang
tak terbatas.
Pendekatan kualitatif
adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi
yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan
ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan
terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami.
Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif
merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa
kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
Penelitian kualitatif
dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Dalam penelitian
kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci. Oleh karena itu, peneliti harus
memiliki bekal teori dan wawasan yang luas jadi bisa bertanya, menganalisis,
dan mengkonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas. Penelitian ini
lebih menekankan pada makna dan terikat nilai. Penelitian kualitatif digunakan
jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk
memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan
kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan.
B. Definisi
Data
Kata data berasal dari datum yang berarti
materi atau kumpulan fakta yang dipakai untuk keperluan suatu analisa, diskusi,
presentasi ilmiah, atau tes statistic (http://carapedia.com).
Data adalah deskripsi dari sesuatu dan kejadian yang kita
hadapi (data is the description of things and events that we face) (http://b.domaindlx.com)
Data menggambarkan sebuah representasi fakta yang tersusun
secara terstruktur, dengan kata lain bahwa “Generally, data represent a
structured codification of single primary entities, as well as of transactions
involving two or more primary entities”. (http://risyana.wordpress.com)
Dari beberapa
pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa data adalah sesuatu yang diperoleh
melalui suatu metode pengumpuln data yang akan dikelola dan dianalisis dengan
suatu metode tertentu. Dalam penelitian data secara garis besar terdapat dala
tiga kelompok, yaitu: Wawancara, Observasi, dan dokumentasi.
C. Wawancara
Wawancara merupakan alat re-cheking atau
pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Tehnik
wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam.
Wawancara mendalam (in–depth interview) adalah proses memperoleh keterangan
untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara
pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa
menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan
terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang peneliti saat
mewawancarai responden adalah intonasi suara, kecepatan berbicara, sensitifitas
pertanyaan, kontak mata, dan kepekaan nonverbal. Dalam mencari informasi,
peneliti melakukan dua jenis wawancara, yaitu autoanamnesa (wawancara
yang dilakukan dengan subjek atau responden) dan aloanamnesa (wawancara
dengan keluarga responden).
Beberapa tips saat
melakukan wawancara adalah mulai dengan pertanyaan yang mudah, mulai dengan
informasi fakta, hindari pertanyaan multiple, jangan menanyakan pertanyaan
pribadi sebelum building raport, ulang kembali jawaban untuk klarifikasi,
berikan kesan positif, dan kontrol emosi negatif.
Selanjutnya wawancara dapat dilakukan secara terstruktur dan tidak
terstruktut, dan dapat dilakukan dengan tatap muka (face to face)
maupun menggunakan telepon (Sugiyono, 2006; 138-140).
1) Wawancara
Terstruktur
Pada wawancara ini
digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data
telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Dalam
prakteknya selain membawa instrument sebagai pedoman wawancara, maka pengumpul
data juga dapat menggunakan alat bantu seperti tape recorder, gambar, brosur
dan amterial lain yang dapat membantu dalam wawancara.
2)
Wawancara tidak Terstruktur
Wawancara tidak
terstruktur maksudnya adalah wawancara yang bebas di mana peneliti tidak
menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap
untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa
garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Contohny:
“Bagaimaanakah
pendapat Bapak/Ibu terhadap kebijakan pemerintah tentang impor gula saat ini?
Dan bagaimana dampaknya terhadap pedagang dan petani”.
D. Observasi
Beberapa informasi
yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan,
objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan peneliti
melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau
kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia,
dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan
umpan balik terhadap pengukuran tersebut.
Bungin (2007: 115)
mengemukakan beberapa bentuk observasi yang dapat digunakan dalam penelitian
kualitatif, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur, dan
observasi kelompok tidak terstruktur.
·
Observasi partisipasi
(participant observation) adalah metode pengumpulan data yang digunakan
untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan dimana
observer atau peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden.
·
Observasi tidak
berstruktur adalah observasi yang dilakukan tanpa menggunakan guide observasi.
Pada observasi ini peneliti atau pengamat harus mampu mengembangkan daya
pengamatannya dalam mengamati suatu objek.
·
Observasi kelompok
adalah observasi yang dilakukan secara berkelompok terhadap suatu atau beberapa
objek sekaligus.
E. . Studi
Dokumentasi
Dokumentasi adalah
salah satu metode pengumpulan data kualitatif dengan melihat atau menganalisis
dokumen-dokumen yang dibuat oleh subjek sendiri atau oleh orang lain tentang
subjek.
1. Dokumen
Sejumlah besar fakta
dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Sebagian besar data
yang tersedia adalah berbentuk surat-surat, catatan harian, cenderamata,
laporan, artefak, foto, dan sebagainya. Sifat utama data ini tak terbatas pada
ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal
yang pernah terjadi di waktu silam. Secara detail bahan dokumenter terbagi
beberapa macam, yaitu otobiografi, surat-surat pribadi, buku atau catatan
harian, memorial, klipping, dokumen pemerintah atau swasta, data di server dan
flashdisk, data tersimpan di website, dan lain-lain.
Meleong (dalam
Herdiansyah, 2010: 143) mengemukakan dua bentuk dokumen yang dapat dijadikan
bahan dalam studi dokumentasi, yaitu:
2. Dokumen
harian
Dokumentasi pribadi
adalah catatan atau karangan seseorang secara tertulis tentang tindakan,
pengalaman, dan kepercayaannya. Tujuan dari dokumentasi ini adalah untuk
memperoleh sudut pandang orisinal dari kejadian situai nyata. Terdapat tiga
dokumentasi pribadi yang umum digunakan, yaitu:
1) Catatan
harian (diary)
Diary berisi beragam aktivitas dan kegiatan
termasuk juga unsur perasaan.
2) Surat Pribadi
Surat pribadi
(tertulis pada kertas), e-mail, dan obrolan dapat dijadikan sebagai
materi dalam analisis dokumen dengan syarat, peneliti mendapat izin dari orang
yang bersangkutan.
3) Autobiografi
Autobiografi berasal
dari bahasa Yunani yang terdiri atas gabungan tiga kata, yaitu auto (sendiri), bios (hidup),
dan grapein (menulis). Didefinisikan autobiografi adalah
tulisan atau pernyataan mengalami pengalaman hidup.
3. Dokumen Resmi
Dokumen resmi
dipandang mampu memberikan gambar mengenai aktivitas, keterlibatan individu
pada suatu komnitas tertentu dalam setting social.
Menurut Meleong
(Herdiansyah, 2010: 145-146) dokumen resmi dapat dibagi kedalam dua
bagian. Pertamadokumen internal, yaitu dapat berupa catatan,
seperti memo, pengumuman, instruksi, aturan suatu lembaga, system yang
diberlakukan, hasil notulensi rapat keputusan pimpinan, dan lain sebagainya.
Kedua, dokumentasi eksternal yaitu dapat berupa
bahan-bahan informasi yang dihasilkan oleh suatu lembaga social, seperti
majalah, koran, bulletin, surat pernyataan, dan lain sebagainya.
4. Focus Group
Discussion (FGD)
Focus Group Discussion
(FGD) adalah teknik pengumpulan data yang umumnya dilakukan pada penelitian
kualitatif dengan tujuan menemukan makna sebuah tema menurut pemahaman sebuah
kelompok. Teknik ini digunakan untuk mengungkap pemaknaan dari suatu kalompok
berdasarkan hasil diskusi yang terpusat pada suatu permasalahan tertentu. FGD
juga dimaksudkan untuk menghindari pemaknaan yang salah dari seorang peneliti
terhadap fokus masalah yang sedang diteliti.
Ada beberapa ketentuan
yang harus diperhatikan ketika ingin melakukan FGD. Pertama, jumlah
FGD berkisar antara 5-10 orang. Kedua, Peserta FGD harus
bersifat FGD. Ketiga, perlunya dinamika kelompok.
Kapan FGD dilakukan?
Ada beberapa kepentingan mengapa peneliti melakukan FGD, antara lain:
·
Jika peneliti
membutuhkan pemahaman lebih dari satu sudut pandang,
·
Jika terjadi gap
komunikasi antar kelompok,
·
Untuk menyingkap suatu
fakta secara lebih detail dan lebih kaya,
·
Untuk keperluan
verifikasi
F. Proses
Pengumpulan Data Kualitatif
Dalam penelitian
kualitatif, proses pengumpulan data harus melalui beberapa beberapa tahapan
yang setiap tahapan tersebut saling terkait anatar satu sama lain. Secara garis
besar, terdapat lima tahapan proses pengumpulan data kualitatif.
1. Melakuakn
identifikasi Subjek/ Partisipan Penelitian dan lokasi Penelitian (Site).
Creswell (dalam
Herdiansyah: 2010: 152) mengatakan bahwa sebagai seorang peneliti kualitatif,
harus benar-benar matang dalam melakukan identifikasi partisipan dan lokasi
penelitian sebagai pondasi awal penelitian yang akan dilakuan.
2. Mencari dan
Mendapatkan akses menuju Subjek/Partisispan Penelitian dan Lokasi Penelitian .
Kadangkala, akses
menuju partisipan dan lokasi penelitian, tidak semudah yang dibayangkan. Banyak
hambatan dan kendala menuju partisipan dan lokasi penelitian memiliki keunikan
tertentu.
3.Menentukan Jenis
Data yang Akan Dicari/Diperoleh
Dalam tahap ini,
peneliti harus merujuk kepada focus kajian penelitian, tujuan penelitian dan
pertanyaan penelitian yang hendak dicari jawaban.
4. Mengembangkan atau Menentukan
Instrumen/Metode Pengumpulan Data.
Dalam menentukan
instrument metode pengumpulan data, hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam
penelitian kualitaif lebih bersifat fleksibel dibandingkan dengan metode
lainnya. Sebelum penelitian dilakukan, peneliti sudah menentukan satu atau
lebih metode [engumpulan data.
5.
Pengumpulan Data
Terdapat beberapa hal
yang perlu diingat dalam pengumpulan data untuk penelitian kualitatif adalah.Pertama,umumnya
penelitian dilakuakn lebih dari satu kali. Kedua, dalam melakukan
pengumpulan data selalu disesuaikan dengan situasi alamiah. Ketiga,
lakukan probing terhadap symbol. Probing adalah
proses eksplorasi lebih dalam terhadap suatu hal yang dirasa perlu untuk
diungkap.
G. Metode
Pengumpulan Data, Penelitian dengan judul : “Konsep Stress dan mekanisme koping
pada ibu yang berhasil melakukan VBAC di wilayah DKI Jakarta (Latifah, 2009)”.
Judul tersebut di atas
merupakan contoh dari penelitian kualitatif. Proses pengumpulan data dalam
penelitian ini adalah melalui beberapa tahapan yaitu persiapan, pelaksanaan,
dan penutupan.
1.
Pada tahap persiapan,
pertama peneliti mengurus perijinan dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia (FIK-UI). Setelah mendapat ijin, peneliti mencari data awal Rekam
Medik RSCM dan RS Sint Carolus untuk mencari calon partisipan yang sesuai
dengan criteria.
2.
Pada tahap
pelaksanaan, pertama kali peneliti memersiapkan lingkungan tempat akan
dilakukannya wawancara sesuai dengan kontrak sebelumnya yaitu ruang tamu
partisipan.
3.
Tahap penutup, yaitu
dimana peneliti pada akhir wawancara meminta partisipan untuk mengisi jurnal
yang peneliti berikan mengenai pengalaman stress dan koping partisipan yang
belum terungkap saat wawancara. Pada tahap ini, peneliti dapat meminta waktu
lain untuk melanjutkan penelitian, bila dirasa perlu.
H. Kesimpulan
Dari beberapa
pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa data adalah sesuatu yang diperoleh
melalui suatu metode pengumpuln data yang akan dikelola dan dianalisis dengan
suatu metode tertentu. Dalam penelitian data secara garis besar terdapat dala
tiga kelompok, yaitu: Wawancara, Observasi, dan dokumentasi.
Wawancara
Wawancara merupakan
alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau
keterangan yang diperoleh sebelumnya. Tehnik wawancara yang digunakan dalam
penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam. Wawancara mendalam (in–depth
interview).
Dalam mencari
informasi, peneliti melakukan dua jenis wawancara, yaitu autoanamnesa
dan aloanamnesa.
Selanjutnya wawancara
dapat dilakukan secara terstruktur dan tidak
terstruktut, dan dapat dilakukan dengan tatap muka (face to face)
maupun menggunakan telepon (Sugiyono, 2006; 138-140).
Observasi
Bungin (2007: 115)
mengemukakan beberapa bentuk observasi yang dapat digunakan dalam penelitian
kualitatif, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur, dan
observasi kelompok tidak terstruktur.
Studi
Dokumentasi
Dokumentasi adalah
salah satu metode pengumpulan data kualitatif dengan melihat atau menganalisis
dokumen-dokumen yang dibuat oleh subjek sendiri atau oleh orang lain tentang
subjek.
Dokumen
Meleong (dalam
Herdiansyah, 2010: 143) mengemukakan dua bentuk dokumen yang dapat dijadikan
bahan dalam studi dokumentasi, yaitu:
a)
Dokumen harian
·
Catatan harian (diary)
·
Surat Pribadi
·
Autobiografi
b)
Dokumen Resmi. Yaitu Pertama dokumen internal. Kedua,
dokumen eksternal
Focus Group Discussion
(FGD)
Focus Group Discussion
(FGD) adalah teknik pengumpulan data yang umumnya dilakukan pada penelitian
kualitatif dengan tujuan menemukan makna sebuah tema menurut pemahaman sebuah
kelompok.
Ada beberapa ketentuan
yang harus diperhatikan ketika ingin melakukan FGD. Pertama, jumlah
FGD berkisar antara 5-10 orang. Kedua, Peserta FGD harus
bersifat FGD. Ketiga, perlunya dinamika kelompok.
Ada beberapa
kepentingan mengapa peneliti melakukan FGD, antara lain:
·
Jika peneliti
membutuhkan pemahaman lebih dari satu sudut pandang,
·
Jika terjadi gap
komunikasi antar kelompok,
·
Untuk menyingkap suatu
fakta secara lebih detail dan lebih kaya,
·
Untuk keperluan
verifikasi
Proses
Pengumpulan Data Kualitatif
Secara garis besar,
terdapat lima tahapan proses pengumpulan data kualitatif.
·
Melakuakn identifikasi
Subjek/ Partisipan Penelitian dan lokasi Penelitian (Site).
·
Mencari dan
Mendapatkan akses menuju Subjek/Partisispan Penelitian dan Lokasi Penelitian .
·
Menentukan Jenis Data
yang Akan Dicari/Diperoleh
·
Mengembangkan atau
Menentukan Instrumen/Metode Pengumpulan Data.
Pengumpulan
Data
Terdapat beberapa hal
yang perlu diingat dalam pengumpulan data untuk penelitian kualitatif adalah.Pertama,umumnya
penelitian dilakukan lebih dari satu kali. Kedua, dalam melakukan
pengumpulan data selalu disesuaikan dengan situasi alamiah. Ketiga,
lakukan probing terhadap symbol. Probing adalah
proses eksplorasi lebih dalam terhadap suatu hal yang dirasa perlu untuk
diungkap.
Daftar
Pustaka
Bungin, B.
2007. Penelitian Kualitatif. Prenada Media Group: Jakarta.
Saryono. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Nuhe Medika.
Saryono. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Nuhe Medika.
Herdiansyah, Haris.
2010. Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta:
Salemba Humanika.
Saryono. 2010. Metodologi
Penelitian Kualitatif dalam Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Sugiyono. 2010. Metode
Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitaf, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
BAHAN REFERENSI PENELITIAN
TEKNIK PENGUMPULAN DATA: WAWANCARA DAN FGD (FORUM
GROUP DISCUSSION)
Salah satu hal
yang paling penting dalam penelitian adalah data penelitian, karena melalui
data berbagai macam tujuan penelitian dapat dicapai, baik dalam hal menjawab
pertanyaan, maupun pengujian hipotesis (Silalahi, 2006: 257). Oleh karenanya langkah
pengumpulan data dapat dikatakan sebagai salah satu langkah paling essensial
dalam penelitian. Data penelitian merupakan hasil dari pengamatan dan
pengukuran yang dilakukan secara empiris, yang mengungkapkan fakta tentang
karakteristik dari suatu gejala tertentu(Silalahi, 2006: 258). Dalam
penelitian, kita tidak bisa hanya mengandalkan pengetahuan rasional semata,
karena seringkali apa yang terlihat atau terdengar tiap harinya berbeda dengan
kenyataan di lapangan. Oleh karena itu penting sekali untuk mencari dan
menemukan fakta sebagai pengetahuan empiris, melalui pengumpulan data.
Pengumpulan
data dapat dilakukan dengan metode-metode tertentu tergantung permasalahan yang
dihadapi, walaupun tidak jarang dalam kasus-kasus tertentu, justru metode yang
mempengaruhi permasalahan, entah karena sulit dan peliknya permasalahan atau
karena belum ada metode yang mampu digunakan terhadap suatu permasalahan
(Silalahi, 2006: 268). Namun demikian secara umum metode pengumpulan data akan
selalu bergantung pada permasalahannya. Pada dasarnya metode pengumpulan data
dapat diartikan sebagai cara untuk mengumpulkan data. Kemudian terdapat
berbagai macam pengelompokan metode pengumpulan data, salah satu yang terkemuka
adalah metode pengelompokan menurut Neuman.
Neuman mengelompokkan
metode pengumpulan data menjadi metode pengumpulan data kuantitatif dan
kualitatif (Silalahi, 2006: 268). Pada dasarnya, data kuantitatif merupakan
data yang dapat dinyatakan dengan angka, sebaliknya data kualitatif merupakan
data yang tidak dapat dinyatakan atau diukur melalui angka. Data seperti ini
biasanya berhubungan dengan deskripsi dan interpretasi akan suatu fenomena,
dimana data-data seperti ini seringkali didapatkan melalui wawancara mendalam
atau usaha dengar pendapat dan diskusi dengan pihak tertentu. Kedua cara ini
bukanlah satu-satunya cara untuk mendapatkan data kualitatif, masih banyak cara
lain yang dapat digunakan, namun sesuai dengan Topik yang tertera pada silabus
(Silabus AHI, 2010) maka paper ini akan membahas kedua cara tersebut.
Wawancara
Wawancara
adalah merupakan pertemuan antara dua orang untuk bertukar informasi dan ide
melalui tanya jawab sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik
tertentu (Esterberg, 2002). Wawancara merupakan alat mengecek ulang atau pembuktian
terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya dan juga merupakan
teknik komunikasi langsung antara peneliti dan sampel.
Dalam penelitian dikenal teknik
wawancara-mendalam (Hariwijaya
2007: 73-74). Teknik ini biasanya melekat erat dengan penelitian kualitatif.
Wawancara mendalam (in–depth interview) adalah proses
memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil
bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai,
dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara di
mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif
lama. Keunggulannya ialah memungkinkan peneliti mendapatkan jumlah data yang
banyak, sebaliknya kelemahan ialah karena wawancara melibatkan aspek emosi,
maka kerjasama yang baik antara pewawancara dan yang diwawancari sangat
diperlukan.
Dari sisi
pewawancara, yang bersangkutan harus mampu membuat pertanyaan yang tidak
menimbulkan jawaban yang panjang dan bertele-tele sehingga jawaban menjadi
tidak terfokus. Sebaliknya dari sisi yang diwawancarai, yang bersangkutan dapat
dengan enggan menjawab secara terbuka dan jujur apa yang ditanyakan oleh
pewawancara atau bahkan dia tidak menyadari adanya pola hidup yang berulang
yang dialaminya sehari-hari. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
seorang peneliti saat mewawancarai responden adalah intonasi suara, kecepatan
berbicara, sensitifitas pertanyaan, kontak mata, dan kepekaan nonverbal. Dalam
mencari informasi, peneliti melakukan dua jenis wawancara, yaitu autoanamnesa
(wawancara yang dilakukan dengan subjek atau responden) dan aloanamnesa
(wawancara dengan keluarga responden).
Metode wawancara merupakan salah
satu metode pengumpulan data yang umum digunakan untuk mendapatkan data berupa
keterangan lisan dari suatu narasumber atau responden tertentu. Data yang
dihasilkan dari wawancara dapat dikategorikan sebagai sumber primer karena
didapatkan langsung dari sumber pertama. Proses wawancara dilakukan dengan
mengajukan pertanyaan kepada narasumber atau responden tertentu.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara tersebut biasanya telah
terstruktur secara sistematis agar didapatkan hasil wawancara yang lebih
spesifik dan terperinci. Walaupun adakalanya wawancara berlangsung tidak terstruktur
atau terbuka sehingga menjadi sebuah diskusi yang lebih bebas. Dalam kasus ini
tujuan pewawancara mungkin berkisar pada sekedar memfasilitasi narasumber atau
responden untuk berbicara (Blaxter et.al, 2006: 258-259).
Wawancara yang lebih terbuka sering kita lihat dalam acara talkshow. Namun demikian, wawancara
terstruktur tetap lebih baik untuk mendapatkan data yang lebih spesifik.
Menurut
Musta’in Mashud di dalam buku Metode Penelitian Sosial Berbagai Alternatif
Pendekatan (2005), secara umum wawancara dibagi menjadi dua sesuai
standarisasinya yaitu wawancara berencana dan tidak berencana. Wawancara
berencana biasanya telah disiapkan model-model pertanyaan yang pasti berupa
kuesioner yang telah secara sistematis disusun sedemikian urut. Kuesioner tersebut
nantinya diajukan kepada para responden dengan cara bisa melalui wawancara yang
dalam hal ini sifatnya tertutup karena pewawancara tidak diperkenankan
mengembangkan pertanyaan dan menanyakan persis dengan apa yang ada dikuesioner
atau bisa juga dengan menyodorkan lembaran kuesioner dan membiarkan responden
menjawab. Dalam hal ini jelas tujuannya adalah mencari keseragaman jawaban
karena pertanyaan sifatnya pakem dan tidak bisa ditambah atau dikurangi. Model
seperti ini seringkali digunakan dalam riset yang bersifat menguji hipotesis.
Sebaliknya, wawancara yang tidak terencana tidak memiliki persiapan susunan
yang mendasar. Model ini memungkinkan penanya mengembangkan pertanyaan secara
spontanitas namun tidak asal-asalan.
Lebih mendetail
lagi, wawancara tidak terencana dibagi lagi menjadi dua yaitu wawancara bebas
dan terfokus. Wawancara bebas dikatakan bebas karena tidak terikat sistematika
susunan pertanyaan tertentu namun hanya diarahkan oleh beberapa pedoman
wawancara sehingga pewawancara dapat bebas mengembangkan apa yang akan
ditanyakan nantinya. Bedanya dengan wawancara terfokus adalah apabila terfokus
maka meskipun pewawancara terikat dengan pedoman pertanyaan, pewawancara harus
tetap mengarahkan fokus pertanyaan pada satu persoalan saja. Hal ini lebih
menghemat waktu karena seringkali pada wawancara bebas pewawancara terlibat
pada obrolan yang sedikit keluar dari topik permasalahan utama.
Ada dua jenis
wawancara jika dilihat dari sifat pertanyaannya yaitu wawancara tertutup dan
terbuka. Pada wawancara tertutup, baik yang diwawancarai atau pewawancara
betul-berul terikat pada struktur susunan pertanyaan wawancara. Model
pertanyaan seperti ini seringkali digunakan pada survei dan tidak memberikan
peluang bagi responden untuk mengembangkan jawaban lebih dalam. Sebaliknya,
model pertanyaan terbuka pewawancara dapat melakukan observasi jawaban jauh
lebih dalam dan leluasa karena tidak terikat pada satu struktur susunan
tertentu.
Beberapa tips
saat melakukan wawancara adalah mulai dengan pertanyaan yang mudah, mulai
dengan informasi fakta, hindari pertanyaan multiple, jangan menanyakan
pertanyaan pribadi sebelum building raport, ulang kembali jawaban untuk
klarifikasi, berikan kesan positif, dan kontrol emosi negatif. Selain itu, ada
beberapa hal lain yang juga perlu diperhatikan untuk menjadi pewawancara yang
baik, yaitu jujur, mempunyai minat, berkepribadian dan tidak temperamental,
adaptif, akurasi, dan berpendidikan (Moser & Kalton dalam Musta’in Mashud
dalam Bagong & Sutinah 2005: 76).
Focus Group Discussion (FGD)
Selain wawancara juga dikenal Focus Group Discussion (FGD) merupakan
metode penelitian di mana peneliti memilih orang-orang yang dianggap mewakili
sejumlah publik yang berbeda. Misalnya, seorangPublic Relations (PR) perusahaan
ingin mengetahui opini publik tentang kebijakan baru perusahaan, PR bisa
memilih orang yang dianggap mewakili karyawan, pimpinan dan lainnya. Mereka
semua dikumpulkan dalam sebuah ruang diskusi yang dipimpin seorang moderator.
Di forum diskusi inilah moderator
mengeksplorasi opini dan pandangan-pandangan responden tentang kebijakan
perusahaan. Dari sini kemudian moderator memiliki peran penting bagi suksesnya
diskusi. Peneliti dapat bertindak sebagai moderator atau mempercayakan kepada
orang lain. Seorang moderator harus mempunyai kemampuan dalam penguasaan teknik
wawancara, menjaga agar aliran diskusi terus berjalan, dan mampu bertindak
sebagai wasit atau bahkan sebagai pembela yang menentang apa yang dianggap baik
(devil’s advocate). Selama proses diskusi akan
lebih baik dilengkapi alat-alat perekam, sehingga membantu peneliti dalam
analisis data. (Hariwijaya 2007: 72-73).
FGD memungkinkan peneliti
mendapatkan data yang lengkap dari informan yang biasanya dijadikan landasan
suatu program (pilot study). Pelaksanaan
FGD juga relatif cepat, yang terlama adalah waktu rekruitmen informan. FGD juga
memungkinkan peneliti lebih fleksibel dalam menentukan desain pertanyaan,
sehingga bebas bertanya kepada informan sesuai dengan tujuan penelitian. Namun
FGD relatif membutuhkan biaya yang cukup besar, bahkan dalam beberapa kasus,
para informan mendapat selain konsumsi juga ‘uang lelah’ karena telah mengikuti
diskusi.
Secara garis besar Focus Group Discussion (FGD), bersifat lebih lebar dari wawancara. Jika wawancara
menitikberatkan pada pengajuan pertanyaan kepada narasumber atau responden,
maka dalam FGD, tidak terdapat pengajuan pertanyaan secara spesifik, namun
lebih pada upaya mendengarkan keterangan dari berbagai sumber yang kemudian
dirumuskan menjadi suatu data tertentu. Dalam kasus ini peneliti berusaha
mengumpulkan data mengenai suatu Topik tertentu dari banyak pihak yang memiliki
informasi mengenai Topik tersebut. Masing-masing pihak kemudian mengemukakan
pendapat, persepsi dan pemikirannya masing-masing mengenai Topik tersebut dalam
suatu diskusi, dimana peneliti menjadi pendengar yang bertugas mengamati dan
memfasilitasi jalannya diskusi. Dari diskusi tersebut kemudian dihasilkan suatu
pendapat akhir yang mewakili pendapat utama dari masing-masing pihak. Pendapat
akhir inilah yang kemudian menjadi data yang lalu dikumpulkan oleh peneliti.
Tentu saja dalam FGD, terdapat tingkatan persepsi dan kebiasan tertentu, sesuai
dengan pemikiran masing-masing pihak. Namun dari hal ini didapatkan suatu data
yang lebih bersifat deskriptif dan menyeluruh.
FGD adalah
suatu metode kualitatif. Tujuannya adalah untuk memperoleh informasi mendalam
pada konsep, persepsi dan gagasan untuk suatu kelompok FGD mengarahkan untuk
menjadi lebih dari suatu pertanyaan-pertanyaan interaksi jawaban. Ini merupakan
suatu diskusi kelompok antara 6 sampai 12 orang yang dipandu oleh seorang
fasilitator dan co-fasilitator..
Kegunaan FGD
antara lain untuk :
1.
Riset fokus dan pengembangan penelitian hipotesis yang relevan
dengan menyelidiki kedalaman lebih besar pada masalah yang akan diselidiki dan
penyebab yang mungkin terjadi.
2.
Merumuskan pertanyaan secara terstruktur, skala yang lebih besar
untuk survey.
3.
Memberikan bantuan untuk memahami dan memecahkan permasalahan
yang tak terduga.
4.
Mengembangkan pesan sesuai program pendidikan kesehatan dan
kemudian mengevaluasi pesan agar lebih jelas.
5.
Menyelidiki topik yang pro dan kontra.
Cara mementukan
kelompok diskusi:
1.
Menentukan Tujuan.
2.
mempertimbangkan peserta (criteria), situasi, dan
lain-lain.
3.
Situasi analisis
4.
Mempertimbangkan pertimbangan ketika menyiapkan FGD.
5.
Memakai metode yang cocok
6.
Pelaksanaan.
Dalam
pelaksanaan ini ada beberapa langkah yang harus diperhatikan antara lain :
1.
1.
Merumuskan pertanyaan
2.
Identifikasi dan melatih assessor
3.
Melakukan Pre-test
4.
Merekrut peserta
5.
Membuat peraturan
6.
Membuat Jadwal
7.
Perkenalan
8.
Menjelaskan tujuan FGD
9.
Memberikan waktu untuk berpikir
10.
Mengatur setting
11.
Diskusi dimulai dari topik yang paling ringan
12.
Merekam setiap kejadian
13.
Menyiapkan data dan analisis
14.
Membuat laporan.
Dalam
pelaksanaan sesi ada yang berperan sebagai fasilitator atau moderator untuk
fokus kelompok diskusi yang bertindak sebagai perekam. Fungsi fasilitator
adalah bertindak sebagai suatu ahli atas topik tertentu. Perannya adalah untuk
merangsang dan mendukung diskusi. Tugasnya meliput memberikan petunjuk dan
memberikan dorongan pada saat diskusi berlangsung.
FGD merupakan
proses interaktif. FGD dapat digunakan sebagai alat yang kuat dalam sebuah
penelitian yang menyediakan informasi secara spontan yang berharga dalam jangka
waktu yang singkat dan relatif cepat. FGD merupakan salah satu metode
kualitatif dan alat tunggal yang dapat menambah keuntungan misalnya dalam
penelitian atau yang lain. Dalam kelompok diskusi, orang-orang cenderung
memusatkan pendapatnya berdasarkan pada norma sosial. Akan tetapi
pendapat-pendapat itu sebaiknya dibahas dengan ketua dan informan penting dalam
FGD melalui wawancara.
Namun FGD
memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:
1.
FGD tidak dapat digunakan untuk tujuan kuantitatif, misalnya tes
hipotesis atau penemuan-penemuan umum untuk lingkup yang luas, yang memerlukan
penelitian-penelitian yang lebih teliti dan rumit.
2.
Dalam permasalahan sebuah topic yang sangat sensitive anggota
kelompok dapat ragu-ragu dalam mengungkapkan perasaanya dan pengalamannya
secara bebas. Misalnya perilaku seksual atau HIV AIDS yang dialaminya.
Referensi
Blaxter,
Loraine., Hughes, Christina., dan Tight Malcolm. 2006. How to Research: Seluk
Beluk Melakukan Riset. Jakarta: PT Indeks Kelompok Gramedia.
Faisal,
Sanapiah, Penelitian Kualitatif: Dasar-Dasar dan Aplikasinya. Malang: YA3, 1990
Silabus
Analisis Hubungan Internasional 2010-2011
Hariwijaya, M,
Metodologi dan teknik penulisan skripsi, tesis, dan disertasi, elMatera
Publishing, Yogyakarta, 2007
Silalahi,
Ulber. 2006. Metode Penelitian Sosial. Bandung: UNPAR Press.
Suyanto, Bagong & Sutinah (ed), Metode penelitian sosial:
berbagai alternatif pendekatan, Kencana, Jakarta, 2005
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)





